Daewoong Pharmaceutical Indonesia kembali memperkuat komitmennya dalam mendukung tata laksana diabetes berbasis bukti ilmiah melalui dua kegiatan ilmiah yang diselenggarakan secara berurutan di Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Berbeda dari peluncuran nasional sebelumnya, kegiatan di Semarang dan Surabaya diarahkan untuk membahas persoalan yang lebih mendasar, yaitu mengapa penanganan diabetes secara menyeluruh, termasuk perlindungan ginjal dan pengendalian risiko kardiovaskular, masih belum optimal di berbagai daerah serta langkah yang dapat dilakukan dokter sejak dini.
Rangkaian kegiatan ini merupakan kelanjutan dari peluncuran nasional enavogliflozin dalam acara FEN XIV & PIT PERKENI 2026 di Bandung pada 27 Juni 2026. Pada kesempatan tersebut, enavogliflozin diperkenalkan kepada para ahli endokrinologi dan penyakit dalam dari berbagai wilayah di Indonesia.
Komplikasi Diabetes yang Sering Terlambat Terdeteksi
Indonesia menempati peringkat ketujuh dunia dalam jumlah kasus diabetes tipe 2, dengan lebih dari 20 juta orang hidup dengan penyakit tersebut. Di tengah tingginya beban penyakit, berbagai komplikasi, khususnya gangguan ginjal dan penyakit kardiovaskular, masih sering diketahui ketika kondisinya telah berkembang lebih lanjut sehingga kesempatan untuk melakukan intervensi dini menjadi semakin terbatas.
Berbagai bukti menunjukkan bahwa sekitar 30–40% pasien diabetes melitus mengalami komplikasi ginjal. Sementara itu, penyakit kardiovaskular masih menjadi penyebab kematian utama pada kelompok pasien ini.
Di Indonesia, prevalensi diabetes meningkat dari 10,9% pada 2018 menjadi 11,7% pada 2023. Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya memperluas edukasi klinis yang terintegrasi agar dapat menjangkau dokter dan tenaga kesehatan di berbagai wilayah.
Upaya penanganan diabetes tidak cukup hanya dilakukan melalui kampanye dan edukasi di tingkat nasional. Dialog ilmiah perlu berlangsung secara berkelanjutan di tingkat regional karena sebagian besar pelayanan dan pendampingan pasien dilakukan oleh tenaga kesehatan di daerah. Atas dasar inilah Daewoong menyelenggarakan kegiatan ilmiah di Semarang dan Surabaya.
Semarang, 11 Juli — SMILE 2026
Pada 11 Juli 2026, Daewoong berpartisipasi dalam simposium Semarang Meeting on Integrated Learning in Diabetes atau SMILE 2026 di Hotel Gumaya Semarang. Kegiatan tersebut diselenggarakan dalam rangka Hari Diabetes Nasional 2026 oleh PERKENI Cabang Semarang bersama PB Persadia.
SMILE 2026 menjadi forum ilmiah regional bagi dokter dan tenaga kesehatan untuk membahas penanganan diabetes secara terintegrasi, mulai dari intervensi dini hingga pengelolaan komplikasi jangka panjang. Kegiatan ini dihadiri 202 dokter dan tenaga kesehatan dari Semarang, wilayah Jawa Tengah, serta daerah sekitarnya.
Dalam kegiatan tersebut, Daewoong menyelenggarakan simposium bertajuk “Early Intervention in T2DM: From Renal Protection with SGLT2 Inhibitors to Long-Term Outcomes Through Adherence and Combination Therapy”.
Sesi dimoderatori oleh Dr. dr. K. Heri Nugroho HS, Sp.PD, K-EMD, FINASIM, dengan menghadirkan dr. R. Bowo Pramono, Sp.PD, K-EMD, FINASIM, dan dr. Tania Tedjo Minuljo, Sp.PD, K-EMD, FINASIM, sebagai pembicara.
Dalam paparannya, dr. R. Bowo Pramono membahas pentingnya intervensi dini pada penyakit ginjal diabetik serta peran inhibitor SGLT2 pada pasien dengan gangguan fungsi ginjal ringan.
“Penyakit ginjal diabetik dapat berkembang tanpa disadari, terutama pada tahap awal ketika pasien belum merasakan gejala tertentu. Karena itu, identifikasi risiko dan intervensi terapi yang tepat waktu menjadi sangat penting. Pada pasien yang sesuai, inhibitor SGLT2 telah menjadi bagian penting dalam tata laksana diabetes yang lebih menyeluruh, termasuk dalam memberikan perlindungan terhadap fungsi ginjal,” ujar dr. Bowo.

Sementara itu, dr. Tania Tedjo Minuljo membahas upaya meningkatkan hasil terapi jangka panjang pada diabetes tipe 2 melalui kepatuhan pasien dan penerapan terapi kombinasi sejak dini.
Ia juga menjelaskan profil farmakologis enavogliflozin sebagai inhibitor SGLT2, termasuk temuan praklinis terkait afinitas pengikatan dan kemampuannya dalam menghambat transporter SGLT2.
“Keberhasilan terapi jangka panjang pada diabetes tipe 2 tidak hanya ditentukan oleh pemilihan obat yang tepat, tetapi juga oleh kepatuhan pasien dan intensifikasi terapi pada waktu yang sesuai,” ujar dr. Tania.
“Enavogliflozin memiliki afinitas pengikatan yang tinggi terhadap transporter SGLT2 serta bioavailabilitas oral yang baik. Karakteristik tersebut mendukung penghambatan SGLT2 secara berkelanjutan dan berpotensi memberikan manfaat metabolik yang konsisten sepanjang interval pemberian obat,” lanjutnya.

Enavogliflozin juga diketahui terutama dimetabolisme melalui hati. Karakteristik ini berpotensi memberikan manfaat dalam pemilihan terapi bagi pasien diabetes yang juga mengalami gangguan ginjal.
Surabaya, 12 Juli — Regional Scientific Launch Symposium
Sehari setelah kegiatan di Semarang, Daewoong menyelenggarakan Regional Scientific Launch Symposium di JW Marriott Hotel Surabaya pada 12 Juli 2026. Kegiatan ini dilaksanakan bersama PERKENI Cabang Surabaya dan dihadiri sekitar 200 dokter serta tenaga kesehatan.
Simposium ini menghadirkan para ahli dari empat disiplin ilmu dalam satu forum, yaitu endokrinologi, kardiologi, nefrologi, dan penyakit dalam. Format multidisiplin tersebut mencerminkan perubahan pendekatan dalam penanganan diabetes yang tidak lagi dapat dilakukan hanya dari sudut pandang satu bidang spesialisasi.
Empat narasumber yang hadir adalah Prof. Dr. dr. Agung Pranoto, Sp.PD-KEMD, FINASIM, dari RSUD Dr. Soetomo Surabaya; Dr. dr. Soebagijo Adi, Sp.PD-KEMD, FACP, FINASIM, dari Universitas Airlangga dan Siloam Hospitals Surabaya; Prof. Dr. dr. Yudi Her Oktaviono, Sp.JP(K), FIHA, dari RSUD Dr. Soetomo Surabaya; serta Dr. dr. Chandra Irwanadi Mohani, Sp.PD, KGH, dari Mitra Keluarga Surabaya.
Sesi dimoderatori oleh Dr. dr. Sony Wibisono Mudjanarko, Sp.PD-KEMD, FINASIM, dan Dr. dr. Budi Baktijasa Dharmadjati, Sp.JP(K), FIHA, kemudian dilanjutkan dengan diskusi panel.

Dr. dr. Chandra Irwanadi Mohani menekankan pentingnya deteksi dini komplikasi ginjal pada pasien diabetes.
“Komplikasi ginjal pada pasien diabetes masih sering diketahui ketika kondisinya sudah berkembang lebih lanjut. Padahal, intervensi sejak dini menjadi salah satu kunci untuk mencegah kerusakan ginjal. Edukasi medis berkelanjutan yang menghadirkan bukti klinis terbaru kepada dokter di berbagai daerah merupakan salah satu langkah efektif untuk meningkatkan hasil pengobatan pasien,” ujarnya.
Prof. Dr. dr. Agung Pranoto menambahkan bahwa pendekatan klinis dalam menangani diabetes tipe 2 di Indonesia perlu terus berkembang mengikuti bukti ilmiah terbaru.
“Inhibitor SGLT2 telah mengubah cara kita memandang penanganan diabetes. Penggunaannya tidak hanya berkaitan dengan pengendalian glukosa darah, tetapi juga dengan berbagai aspek metabolik yang lebih luas,” ujarnya.
“Diskusi ilmiah seperti ini penting diselenggarakan di Surabaya karena para dokter di wilayah ini membutuhkan bukti yang dapat menjadi dasar dalam menentukan terapi yang lebih efektif dan sesuai dengan kondisi masing-masing pasien,” pungkasnya.
Dr. dr. Soebagijo Adi mengatakan, “Kolaborasi antara PERKENI Cabang Surabaya dan Daewoong Pharmaceutical Indonesia mencerminkan komitmen bersama untuk memperkuat pelayanan diabetes berbasis bukti ilmiah di Jawa Timur. Diskusi mengenai pilihan terapi terbaru diperlukan agar dokter dapat menangani diabetes tipe 2 berdasarkan perkembangan bukti klinis terkini.”

Komitmen Daewoong untuk Memperluas Edukasi di Daerah
dr. Wicak Prasetiadi, Brand & Marketing Manager Daewoong Pharmaceutical Indonesia, mengatakan bahwa setelah peluncuran nasional di Bandung, perusahaan memprioritaskan perluasan diskusi ilmiah agar semakin dekat dengan komunitas medis di berbagai daerah.
“Jawa Tengah dan Jawa Timur memiliki beban diabetes yang cukup besar. Para dokter di kedua wilayah tersebut memegang peran penting dalam pelayanan dan pendampingan pasien sehari-hari,” ujar dr. Wicak.
“Melalui SMILE 2026 di Semarang dan Regional Scientific Launch Symposium di Surabaya, Daewoong ingin mendukung dialog klinis berbasis bukti ilmiah mengenai intervensi dini, kepatuhan terapi, serta upaya meningkatkan hasil pengobatan jangka panjang bagi pasien diabetes tipe 2,” tutupnya.