Badung, Bali, Indonesia, 15 Agustus 2026 — PT Daewoong Pharmaceutical Indonesia (Daewoong), bersama Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI) dan berkolaborasi dengan Korean Society of Cardiology (KSC), menyelenggarakan Korea–Indonesia Cardiovascular Symposium (KICS) pertama di Bali pada 15 Agustus 2026. Simposium ilmiah terakreditasi ini diikuti lebih dari 100 tenaga profesional di bidang kardiovaskular dari Indonesia dan Korea Selatan, baik secara langsung maupun daring, untuk membahas tantangan pengelolaan risiko kardiovaskular serta berbagai pendekatan klinis guna meningkatkan kualitas perawatan pasien.
Indonesia masih menghadapi tantangan besar dalam pengendalian low-density lipoprotein cholesterol (LDL-C) atau yang dikenal sebagai “kolesterol jahat”, terutama pada pasien dengan risiko tinggi serangan jantung dan stroke. Berdasarkan registri multisenter yang dilakukan di delapan pusat layanan kesehatan di Indonesia, hampir 8 dari 10 pasien berisiko tinggi dan sangat tinggi belum mencapai target LDL-C yang direkomendasikan, meskipun telah menjalani terapi.
.jpeg)
Kurang dari 5% Pasien Mencapai Target LDL-C pada Konsultasi Awal, Masih Ada Kesenjangan antara Pedoman dan Praktik Klinis
Dalam simposium tersebut, Dr. dr. Sunanto Ng, Sp.JP(K), Konsultan Kardiologi di Siloam Hospitals Lippo Village sekaligus staf pengajar Fakultas Kedokteran Universitas Pelita Harapan, menyoroti masih lebarnya kesenjangan antara rekomendasi internasional dan praktik klinis di Indonesia.
“Untuk pasien dengan risiko kardiovaskular sangat tinggi, pedoman internasional saat ini merekomendasikan target LDL-C di bawah 55 mg/dL, bahkan hingga 40 mg/dL pada pasien tertentu dengan risiko ekstrem,” ujar Dr. Sunanto. “Namun, berdasarkan registri multisenter terbaru di Indonesia, kurang dari 5% pasien berisiko tinggi dan sangat tinggi telah mencapai target 55 mg/dL pada konsultasi awal. Karena itu, risiko perlu diidentifikasi lebih dini, terapi yang tepat perlu diberikan, dan kondisi pasien harus dievaluasi secara berkala hingga target tercapai.”
%20on%201st%20KICS%202026%20in%20Bali%2C%20August%2015.jpeg)
Para ahli di KICS juga menyoroti sejumlah faktor yang berkontribusi terhadap rendahnya pencapaian target LDL-C di Indonesia, antara lain keterbatasan akses terhadap terapi, belum optimalnya evaluasi ulang setelah pengobatan dimulai, serta maraknya informasi kesehatan yang keliru.
Peningkatan Dosis Statin Dua Kali Lipat Hanya Menambah Penurunan LDL-C Sekitar 6%, Para Ahli Soroti Peran Terapi Kombinasi Statin-Ezetimibe
Prof. Ko Kyu-Yong, kardiolog di Severance Cardiovascular Hospital sekaligus staf pengajar Yonsei University College of Medicine, menjelaskan pentingnya menargetkan dua jalur utama dalam pengaturan kolesterol, yaitu produksi kolesterol di hati dan penyerapannya di usus.
“Sekitar 70% kolesterol berasal dari proses sintesis di hati, sementara sekitar 30% berasal dari penyerapan di usus,” jelas Prof. Ko. “Meningkatkan dosis statin dua kali lipat umumnya hanya memberikan tambahan penurunan LDL-C sekitar 6%, sedangkan penambahan ezetimibe dapat memberikan penurunan tambahan sekitar 20–25%. Hal ini menunjukkan pentingnya menargetkan kedua jalur tersebut ketika dibutuhkan penurunan LDL-C yang lebih besar.”
Prof. Ko juga memaparkan hasil uji klinis acak berskala besar di Korea Selatan yang melibatkan sekitar 3.800 pasien dengan penyakit kardiovaskular aterosklerotik di 26 pusat kesehatan. Studi tersebut menunjukkan bahwa kombinasi rosuvastatin intensitas sedang dan ezetimibe tidak lebih buruk atau non-inferior dibandingkan rosuvastatin intensitas tinggi sebagai terapi tunggal dalam luaran kardiovaskular selama tiga tahun. Pada saat yang sama, proporsi pasien yang berhasil mencapai target LDL-C lebih tinggi pada kelompok terapi kombinasi.
“Hasil terapi juga sangat bergantung pada kemampuan pasien untuk menjalani pengobatan secara konsisten. Bahkan obat yang paling efektif tidak akan memberikan manfaat jika tidak diminum secara rutin,” tambah Prof. Ko. “Pasien dengan risiko kardiovaskular sering kali harus mengonsumsi beberapa obat setiap hari, dan setiap tambahan tablet berarti ada peluang lebih besar untuk melewatkan dosis. Jika dua obat yang bekerja melalui jalur berbeda dapat dikombinasikan dalam satu tablet sekali sehari, regimen terapi menjadi lebih sederhana untuk dijalani. Kesederhanaan ini merupakan salah satu faktor penting dalam keberhasilan pengobatan jangka panjang.”

Fixed-dose combination (FDC) merupakan kombinasi dua zat aktif dalam satu tablet. Pendekatan ini memberikan paparan obat yang setara dengan penggunaan kedua obat secara terpisah, sekaligus mengurangi jumlah tablet yang perlu dikonsumsi setiap hari. Para ahli dalam simposium menilai hal ini dapat menjadi salah satu pendekatan praktis untuk mendukung kepatuhan pasien dalam terapi kardiovaskular jangka panjang, yang umumnya berlangsung selama bertahun-tahun, termasuk ketika pasien tidak merasakan gejala.
Prof. Geu-Ru Hong dari Severance Cardiovascular Hospital dan Yonsei University College of Medicine juga membagikan pengalaman Korea Selatan terkait perluasan skema pembiayaan untuk terapi kombinasi penurun lipid serta membahas perubahan tren infark miokard dan tindakan intervensi koroner selama satu dekade terakhir.
Sementara itu, dr. Ade Meidian Ambari, Sp.JP, Subsp.P.R.Kv(K), PhD, Presiden Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI), menegaskan bahwa pengelolaan kolesterol tidak cukup hanya mengandalkan efektivitas terapi. “Perbaikan pengelolaan kolesterol membutuhkan lebih dari sekadar terapi yang efektif. Hasil yang lebih baik juga bergantung pada edukasi medis yang berkelanjutan, akses terapi yang memadai, pemantauan rutin, serta komunikasi yang jelas agar pasien memahami pentingnya menjalani pengobatan jangka panjang secara konsisten,” ujar dr. Ade.
%20on%201st%20KICS%202026%20in%20Bali%2C%20August%2015.jpeg)
Dari Edukasi Medis hingga Bukti Klinis, Daewoong Dukung Upaya Pencegahan Kardiovaskular di Indonesia
Daewoong saat ini mendukung studi observasional nonintervensi serta evaluasi ekonomi kesehatan bersama mitra akademik untuk menghasilkan bukti klinis yang relevan dengan kondisi pengelolaan kolesterol di Indonesia.
dr. Wicak Prasetiadi, Head of Brand & Marketing PT Daewoong Pharmaceutical Indonesia, mengatakan, “Perbaikan pengelolaan kolesterol membutuhkan kolaborasi dan bukti ilmiah yang benar-benar mencerminkan kondisi sistem kesehatan di Indonesia. Daewoong akan terus mendukung edukasi medis, pertukaran ilmiah, serta pengembangan bukti berbasis data lokal untuk membantu memperkuat upaya pencegahan dan perawatan penyakit kardiovaskular di Indonesia.”